Jumat, 18 November 2011

Cerita berikutnya

Dalam nuasa malam. Sedang di warnet bersama beberapa anak yang mungkin tidak peduli PR apalagi omelan emak.
Tidak tahu kenapa, semalam saya niatan sekali buat menulis. Tapi endah bagaimana. Kata kata yang saya rangkum selamam berceceran entah kemana.

Setidaknya, seadanya malam ini saya akan bercerita. Baiklah.
Tentang si Geby gadis lugu yang duduk di kelas 4.
Teman temannya tahu, saya tahu, semua guru tahu, bahkan jika menteri pendidikan berkunjung akan segera tahu, bahwa untuk Gaby seorang perlu perlakuan khusus.
Saya paham, orang tuanya, menginginkannya sama dengan teman sebayanya yang lain. Ya semua orang tua pasti demikian.
Oleh karena itu jika sesekali Gaby bertingkah, saya benar tak sanggup marah. Dan jika saat saat saya sedang sangat marah, dsan tidak sedang ingin berbasa basi, saya hanya sanggup menberi izin Gaby seorang untuk izin ke luar.

Hari itu setelah ulangan, dan sebiasanya juga, si Gaby Remedi, dia tetap ceria dan bersemangat beremedi.
Nah, kali ini, saya dengan teramat hati hati bertanya padanya,

Me: " Gaby orang mana? "
dengan harapan Gaby menyebut salah satu suku di Negara Republik Ini. Dan berhubung dalam komunitas kelasnya banyak amat suku suku.
Tapi si Gaby...
Gaby: " Orang kayaa miss... " 

Baik saya tidak sanggup berkata.. Kaya apa Gaby.. Kaya monyet, kaya hantu atau kaya macam apa...
Saya hanya kekeh.

Eh malam ini sekian dulu ya. :)